Thursday, May 26, 2016

Launching "More Than This" by Fataya Azzahra

Tuhan, terima kasih untuk anugerah yang Engkau berikan. 
Aku akan melakukan apapun agar dia bahagia.

Itu sedikit kalimat yang diucapkan Awan di dalam hatinya kepada gadisnya, Laluna.

Novel "More Than This" ini selesai kutulis tahun lalu pada 5 Mei 2015. Kalian akan melihat angka cantik itu di akhir cerita. Bukan apa-apa. Di balik itu semua ada cerita sebuah perjalanan si penulis yang berusaha untuk menjodohkan dua tokoh ciptaannya dalam sebuah skenarionya.

Fataya dengan harapannya.
Alhamdulillah, acara hari ini berjalan dengan lancar. Meski yang hadir tidak terlalu banyak, tapi aku sangat berterima kasih atas dukungan penuhnya.
Masih seperti tahun lalu, acara launching ini dibawakan dengan pengisi acara yang sama. Fadila (adik) sebagai MC sekaligus moderator lantaran dia sudah membaca penuh naskah mentah novel ini dan Dr. Wahyu Wibowo sebagai pengisi workshop Penulisan Kreatif.

Di sini, ada kejutan, dari pihak penerbit yang bikin aku meleleh...

Pertemuan dg Bapak Sapardi Djoko Damono
Heiii... siapa sangka sang sastrawan yang teramat melegenda ini hadir di launching "More Than This"?? Ya, itu adalah Bapak Sapardi Djoko Damono. Tak segan-segan aku pun memberi kedua karyaku kepada beliau. Mungkin yang sudah membaca L'amour C'est Toi akan menemukan salah satu puisinya yang berjudul "Aku Ingin" di salah satu adegan ceritanya. 
Pokoknya, surprisenya berhasil! Aku tidak menyangka sama sekali akan bertemu beliau pada saat launching novel keduaku.
Thank you... xox
 
Singkat cerita, aku hanya bercerita tentang cerita cinta yang sederhana. Di mana kita suka melihat, mendengar, bahkan merasakan bagaimana rasanya dari pengagum rahasia atau biasa disebut secret admire sampai cinta diam-diam. Itu yang dilakukan kedua tokoh dalam novel ini. Walau kedengarannya hal biasa, tapi ini menurutku adalah hal yang luar biasa. Bagaimana tidak? Aku merasakan rasa puas yang teramat hingga titik terakhir saat menuliskan kata tamat pada pukul tiga pagi. Senyumku pun tak pernah berhenti terulas di wajahku mengingat naskah keduaku telah selesai setelah kurang lebih tiga tahun proses penulisannya tersendat-sendat lantaran bermunculan ide cerita yang baru. Walau begitu, aku tetap ingat bagaimana cerita yang semula kutinggalkan dan akan berakhir seperti apa.
  • Taya, kalau menulis, tekniknya bgaimana? Dicatat dulu poin-poinnya atau tidak?
Aku bukan tipe penulis yang menulis poin-poin cerita terlebih dahulu di dalam catatan. Tapi aku lebih yang langsung menuangkannya dalam bentuk ketikan. Aku lebih puas yang seperti itu.
  • Dapat dari mana sih nama-nama tokohnya?
Laluna, kuambil dari kata la lune (Prancis) yang artinya bulan. Laluna ini pernah kujadikan nama di dalam cerpenku yang terbilang sudah lama sekali.
Awan. Nama itu tercetus begitu saja dari mulutku. Namun, lama kelamaan, nama itu melekat di benakku pun kepada Luna.
  • Kalau judul kenapa More Than This?
Tadinya, aku menulis dari sudut Laluna, tapi Awan pun layak untuk dijadikan sudut cerita. Jadi, aku menulisnya dengan POV3. Dan, judul More Than This itu sudah mewakili perasaan keduanya.
  • Tentang maukah aku untuk menuliskan cerita yang bersetting suatu daerah? 
Ya, ada keinginan menulis tentang itu. Bagiku, ide cerita sih gampang. Itu bisa nanti. Yang penting dalam hal ini, aku sudah datang ke daerahnya untuk merasakan bagaimana situasinya, apa saja yang ada di sana, bagaimana adat istiadatnya, dan kalau perlu bagaimana orang-orang di sana sampai kebiasaannya. Itu menurutku seru juga... XD
Lain halnya ketika aku menulis L'amour C'est Toi. Itu benar-benar murni aku menjelajah negara Prancis lewat google. Dan, ketika aku benar-benar berada di Prancis, aku membuktikan semua yang kulihat dari mulai Eiffel (walau tak sempat naik... T_T) sampai Pont des Arts, kecuali Kota Menton, ya. Karena aku ke Kota Montpellier sebelum Paris. Hmm... mungkin, akan ada cerita dariku yang bersetting Paris lagi nanti... *ide langsung berseliweran* XD  
  • Bagaimana caranya untuk bisa menekuni dalam hal menulis?
Aku menulis dengan cara otodidak. Belum pernah ada sekalipun aku mengikuti lomba menulis, kelas menulis, atau semacamnya. Sampai akhirnya, aku pernah bilang kepada diriku sendiri kalau suatu saat nanti namaku ada di jejeran rak bukuku. Entah bagaimana caranya.
Akhir tahun 2012, pada awalnya, memang sulit untuk aku sendiri membuat cerita, dalam hal ini mengerjakan tugas kuliah yaitu membuat cerpen. Dan, memang sebenarnya, sudah lama aku ingin membuat cerita dalam bentuk novel tapi masih dalam wacana saja. Tapi, ketika aku menemukan waktu yang cukup banyak (dalam hal ini untuk mengisi liburan) aku tidak menyia-nyiakan waktu itu. Dan, dalam waktu tiga bulan, novel perdanaku selesai (Januari - Maret 2013).
Pada tahun 2014, aku mengikuti kelas "Nulis Seru". Di sana, aku mendapatkan teknik-teknik menulis. Selebihnya, aku membaca novel. Di situ, aku memperhatikan bagaimana letak tanda baca, makna cerita, dan sebagainya.
Sekarang, bagiku, menulis itu kujadikan Hobi yang Wajib. Kenapa tidak? Dari hobi menulisku itu aku dapat pelajaran, dapat bertemu "orang-orang baru", dapat memuaskan diri sendiri (daripada memikirkan yang bukan-bukan, benar nggak?). Mau diapakan tulisan itu nantinya, urusan belakangan. 
Satu lagi! Baper (bawa perasaan). Penulis itu harus baper. Kalau tidak begitu, tidak akan menghasilkan tulisan yang bagus. Jadi, salah besar kalau ada yang bilang, "Taya, kalau nulis itu jangan baper." (lha, situ siapa? saya yang nulis kok, suka-suka saya dong...)
  • Pernah tidak mengalami ide buntu?
Pernah. Malah pernah sampai tiga hari aku tidak menulis gegara mentok atau ide buntu. Tapi itu di lain tulisan, bukan More Than This. Kalau mentok pun, itu cuma sesaat dan mulai menggerutu, "Aduh, tadi mau nulis apa, kan, lupa!" dan kalau sudah begitu rasanya kesel sendiri, "argh!!"
Jadi, sebaiknya, kalau ada ide langsung catat di notes handphone saja agar tidak lupa... ;)
  • Dapat ide biasanya dari mana?
Ide itu bisa dari mana saja. Ya, seperti yang kubilang tadi, "daripada mikirin yang bukan-bukan, mendingan mikirin ide cerita." 
Nah, ini juga  langsung catat di notes handphone saja (kalau aku sih tulis cerita lengkapnya di handphone, terus nanti baru di-bluetooth ke laptop). Karena ide itu muncul di mana saja; bisa di angkutan umum, kamar mandi, nonton drama Korea, dengerin musik, bahkan lagi baca novel. Mm... itu pengalaman pribadi... XD (tapi bisa dicontoh kok!)
Tapi, kalau musik atau lagu yang baper parah, kebanyakan aku menemukan yang pas banget dengan cerita yang kutulis itu waktu pertengahan proses menulis. Aku memutarnya sampai berulang-ulang biar feel-nya dapat... XD
Dr. Wahyu Wibowo memberikan workshop Penulisan Kreatif-nya

Foto bersama di akhir acara launching "More Than This" dg SDD

Foto bersama di akhir acara launching "More Than This"

Foto bersama di akhir acara launching "More Than This"

Yang sering terjadi di rumah:
"Taya, emang nggak capek apa nulis mulu?" tanya Bunda lantaran melihat anaknya ini berjam-jam tidak berpindah posisi di depan laptop.
Aku pun tertawa malu-malu. "Nggak, Bun."
Yang sering dibilang sama Bunda itu, "Taya, makan dulu!"
"Bentar, Bun, lagi seru nih!"
 (ya... kira-kira begitulah kalau di rumah)

Sekian ceritanya....
Yang mau bertanya, silakan! :))

3 comments:

Unknown said...

Good job Fataya :-)

Riri Nurjadi said...

Kereeen kak! CONgrats ya

Riri Nurjadi said...

Kereeen kak! CONgrats ya